STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep

STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep
Inovasi Menembus Batas Dunia - Menuju Institut Terkemuka di Madura

Umum 12 Feb 2020
By PUSDATIN

MENELADANI KIAI ZAINAL ARIFIN SUMENEP (1877-1953)

MENELADANI KIAI ZAINAL ARIFIN SUMENEP (1877-1953)

MENELADANI KIAI ZAINAL ARIFIN SUMENEP (1877-1953)
JANUARI 16, 2020

Kiai Zainal Arifin lahir dari keluarga yang akrab dengan lingkungan pesantren dari pasangan Kiai Thalabudin dan ibu Nyai Aisyah, yang semenjak kecil bernama Lora Zainal Abidin. Sebutan lora diawal namanya adalah untuk memastikan bahwa yang bersangkutan adalah putra kiai di daerah Madura dan tapal kuda sebagaimana sebutan Gus atau Mas untuk putra kiai di wilayah Jawa. Baru kemudian terjadi perubahan nama, setelah mengerjakan ibadah haji sebagaimana perubahan nama juga menjadi salah satu tradisi masyarakat Madura yang telah melakukan ibadah haji.

Secara nasab, bila dirunut ke atas, baik dari jalur Kiai Thalabudin atau Nyai Aisyah, Lora Zainal adalah keturunan Sunan Giri melalui jalur Sunan Cendana Kwanyar Bangkalan di satu sisi dan keturunan Brawijaya V, raja terakhir Mojopahit melalu jalur Lembu Peteng. Dengan begitu,  maka dapat dipastikan bahwa dalam diri Lora Zainal terdapat titisan darah ulama, sekaligus darah para raja Jawa.

Lora Zainal, selanjutnya disebut, dilahirkan di desa Tarate pada tahun 1293 atau bertepatan dengan tahun 1877 M.  Beliau terlahir dalam keadaan yatim, mengingat ayahnya Kiai Thalabudin meninggal sebelum lahir. Kondisi ini sudah diprediksi oleh Kiai Thalabudin, ketika berpesan kepada istrinya, Nyai Aisyah yang sedang hamil lima bulan bahwa dirinya tidak akan lama lagi meninggal dunia sesuai dengan isyarat yang didapat. Karena itu, jika benar-benar melahirkan anak laki-laki, maka berilah nama Zainal Abidin, tegas Kiai Thalabudin kepada istrinya, Nyai Aisyah.

Selang beberapa bulan kemudian Kiai Thalabudin benar-benar ditakdirkan oleh Allah SWT. meninggal pada 18 Dzulhijjah 1293, yang bila dikonvensi ke kalender masehi tepat pada hari Rabu 3 Januari 1877 M. Perasan sedih dialami oleh Nyai Aisyah, termasuk keluarga besar pesantren. Tapi, selang beberapa bulan ditahun yang sama, Nyai Aisyah akhirnya benar-benar melahirkan laki-laki dan selanjutnya diberi nama Zainal Abidin sesuai pesan dari suaminya, yakni Kiai Thalabuddin, sebelum meninggal.    

Dalam kondisi lahir yatim memastikan tumpuhan hidup Lora Zainal kecil bergantung kepada sang ibu, Nyai Aisyah. Pastinya ada perjuangan dan tantangan tersendiri ditinggal ayahnya, Kiai Thalabudin, yang tidak dialami oleh saudara-saudara lain. Pasalnya, Lora Zainal adalah anak terakhir dari empat bersaudara, yaitu Kiai Sholehuddin Situbondo, Nyai Syafiyah Tanggul dan Nyai Shalehah. Di samping itu, Lora Zainal juga memiliki dua saudari lain ibu, yang bernama Nyai Aminah dan Nyai Atiyah dari istri kedua Kiai Thalabudin,  yang bernama Nyai Absari dari Batoan.

Jejak Pendidikan Sang Kiai  
Kondisi ditinggal ayah semenjak kelahirannya, dapat diyakini bahwa peran ibunya, Nyai Aisyah sangat penting dan strategis dalam proses kehidupan serta keberhasilan Lora Zainal. Hidup dalam lingkungan pesantren menjadi jalan bagi Lora Zainal untuk mengenal lebih mudah tradisi-tradisi  pesanten sejak dini. Berkat bimbingan keluarga, khususnya Nyai Aisyah mengantarkan Lora Zainal mempelajari ajaran Islam dan ilmu-ilmu yang terkait, terlebih dimulai dengan belajar membaca al-Qur’an dengan baik sebagai kebutuhan awal sebagai Muslim.

Lebih dari itu, Beliau juga belajar beberapa kitab kuning yang diajarkan di pesantren peninggalan ayahnya  dengan tekun. Baru setelah dipandang cukup umur, Lora Zainal merantau untuk nyantri ke pondok pesantren lain di Madura. Pastinya, proses nyantri dilakukan selalu mendapat restu dari Nyai Aisyah, yang menjadi penentu laju kehidupan Lora Zainal. Ada dua pondok pesantren di Madura yang sempat menjadi jujukan Lora Zainal untuk melanjutkan pendidikan, yakni pondok pesantren Karay Sumenep dan pondok pesantren Syaikhana KH. Muhammad Kholil Bangkalan.

Pertama, pondok pesantren Karay Ganding Sumenep adalah salah satu pesantren tua di Sumenep yang pada era Lora Zainal diasuh oleh KH. Imam ibn Mahmud. Perlu diketahui keluarga pesantren Karay masih memiliki hubungan nasab dengan keluarga Lora Zainal. Karenanya, dengan nyantri di pesantren Karay, Lora Zainal memperoleh dua hal sekaligus, yakni sebagai santri untuk mendalami ajaran Islam serta ilmu-ilmu terkait dalam kitab kuning  di satu sisi, dan di sisi yang berbeda sebagai sarana merajut silaturrahim antar sesama famili dari jalur leluhurnya.

Menurut catatan, di pondok pesantren ini, kecintaan Lora Zainal kepada ilmu sangat nampak, bahkan setiap yang dikajinya selalu dipahami dengan mudah. Tidak salah dalam banyak hal, Lora Zainal menjadi rujukan para santri kaitan dengan pemahaman kitab kuning yang dianggap sulit. Dengan begitu, beliau sangat disegani oleh para santri sebab kedalaman pikirannya dalam memahami kitab kuning. Menariknya, Lora Zainal tetap tawadhu’ dalam setiap menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa apa yang dijelaskan olehnya merupakan penjelasan dari gurunya, Kiai Imam, dengan harapan tidak merasa mengandalkan akalnya sendiri.

Kedalaman ilmu Lora Zainal lambat laun mendapat pantauan serius dari Kiai Imam sehingga mendorongnya untuk segera pulang ke rumah Tarate. Anjuran pulang ini diharapkan agar Lora Zainal membuka pesantren sendiri sehingga dapat menyebarkan ilmu kepada masyarakat secara luas sebagai wujud melanjutkan spirit dakwah yang telah lebih dulu dilakukan oleh para leluhur. Atas perintah ini, akhirnya Lora Zainal pulang dan tidak begitu lama dari kepulangannya itu ternyata beliau dinikahkan dengan gadis pilihan ibunya, yang belum ditemukan namanya.

Sepanjang hidup bersama istrinya, aktivitas Lora Zainal lebih banyak beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Semangat dan istiqamahnya dalam beribadah menjadi sebab Lora Zainal memperoleh isyarat langit dengan bentuk suara ghaib, yang intinya agar beliau melanjutkan untuk berkelana menuntut ilmu. Tidak mau berlama-lama, Lora Zainal menuntut ilmu kembali ke pesantren Karay, setelah mendapat restu ibunya. Tapi, sayang sang Guru, Kiai Imam menolaknya dan menganjurkan Lora Zainal agar belajar ke pondok pesantren di Bangkalan asuhan Syaikhana KH. Muhammad Kholil ibn Abdul Lathif.

Anjuran gurunya direspon dengan baik, di samping memang dalam diri Lora Zainal memang tertanam kecintaan terhadap ilmu yang sangat tinggi. Atas seijin ibunya, Nyai Aisyah, berangkatlah Lora Zainal menuntut ilmu ke pondok pesantren Syaikhana Kholil Bangkalan. Sebagai konsekwensi dari keinginan itu, beliau mencerai istrinya terlebih dahulu agar terhindar dari dosa sebab tidak memenuhi nafkah lahir batin di masa-masa perantauannya mencari ilmu.   

Kedua, pondok pesantren Syaikhana Kholil Bangkalan. Di pondok ini semangat Lora Zainal semakin membara apalagi pilihan ini bukan pilihan sendiri, tapi anjuran Kiai Imam Karay. Pastinya, perintah Kiai Imam bukanlah sembarangan, tapi mempertimbangkan kealiman dan kewalian Syaikhana Kholil yang masyhur dizamannya. Berbekal uang dua setengah sen pemberian ibunya, Lora Zainal meninggalkan desa Tarate Sumenep menuju kota Bangkalan dengan penuh tawakkal dan kesabaran agar perjalanannya diridhai oleh Allah SWT. serta benar-benar diberi kemudahan dalam menuntut ilmu, sekaligus berharap keberkahan keada Syaikhana Kholil.
Dengan bekal yang sangat terbatas, Lora Zainal memilih jalan kaki menapaki jalan yang tidak ramai seperti sekarang. Ketika sampai di desa Aengdake Bluto Sumenep, beliau membeli ketela pohon rebus dengan harga setengah sen untuk membantu kebutuhan makan di jalan. Lantas melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat dan tekad bahwa mencari ilmu harus penuh kesungguhan, jangan terganggu oleh ekonomi yang terbatas. Kesungguhan dan tirakat dalam mencari ilmu akan mengajarkan orang fokus pada impian, tidak terlalu banyak terganggu oleh  ha-hal duniawi. Karenanya, tekad bahwa Tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan bersusah payah (la tarum ilman wa takruka al-ta’ab), telah menjadi keyakinan dalam dirinya sehingga beliau tetap kondisi agar tetap semangat.

Setelah sampai di Bangkalan, Lora Zainal sowan kepada Syaikhana Kholil untuk mengaturkan maksud dan tujuannya hingga akhirnya diterima sebagai santri. Meskipun dalam banyak cerita, sosok Syaikhana Kholil sangat unik dalam menerima calon santri dan berbeda-beda sikap sesuai kapasitasnya. Di pesantren ini, Lora Zainal belajar banyak ilmu kepada Syaikhana Kholil dengan capaian yang luar biasa. Kesungguhan dan dan tirakat Lora Zainal dalam belajar menjadi jalan kemudahan untuk menangkap dan memahami petuah-petuah gurunya, Syaikhana Kholil, ketika menjelaskan maksud dari kitab kuning yang dibaca hingga akhirnya Kiai Zainal menguasai beragam ilmu keislaman.

Di Pondok ini, Lora Zainal dikenal sebagai santri yang mempunyai ilmu sagaran, yakni santri yang memiliki kemampuan menguasai berbagai ilmu dengan baik. Karenanya, beliau menjadi rujukan banyak santri dalam menanyakan pelbagai persoalan dengan beragam disiplin. Menariknya, di pondok ini juga, Lora Zainal juga dinikahkan oleh Syaikhana Kholil dengan santriwati, yang bernama Siti Aminah. Tidak begitu lama, setelah memandang kemampuannya sangat baik, Syaikhana Kholil memaksa agar Lora Zainal kembali pulang bersama Istrinya ke Tarate Sumenep.

Dari proses belajar di pondok pesantren Syaikhana Kholil, nama lora Zainal Abidin dan istirinya, Sitinah Aminah dikenal dengan sebutan KH. Zainal Arifin dan ibu nyai Hj. Hatijah setelah menunaikan ibadah haji. Di Tarate Sumenep, Kiai Zainal bersama istri memulai proses baru dengan menjadikan tradisi pesantren sebagai jalan perjuangannya sebagaimana diwariskan dari sang ayah Kiai Thalabbudin dengan mendirikan pondok pesantren Tarate Sumenep sekitar tahun 1898.  Dari pesantren ini, beliau menularkan gagasan dan berkomunikasi dengan masyarakat luas untuk menyebarkan ilmunya sebagai ladang dakwah, sekaligus memberikan solusi terhadap problem-problem kemasyarakatan dan kebangsaan.

Berdakwah Sambil Berjuang
Kiai Zainal Arifin, selanjutnya dikenal sebagai pemimpin pondok pesantren Tarate Sumenep. Kesehariannya lebih banyak di pesantren dengan mengajarkan beragam kitab kuning kepada santri dan masyarakat, misalnya tentang ilmu tauhid, fikih. akhlakul karimah hingga ilmu alat dengan sistem yang masyhur di pesantren, baik sorogan atau bandongan.  Aktivitas ini dilakukan dengan istiqamah sebagai jalan dakwahnya untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat, sekalipun tidak berharap banyak balasan ekonomi dari proses mengajar yang dilakukannya.

Selebihnya, khusus pada malam hari beliau mengamalkan bacan-bacaan khusus yang biasa dibaca oleh penganut tarekat Naqsyabadiyah. Menurut riwayat sanad ketarekatan Kiai Zainal diperoleh melalui proses baiat dari Syaikh Abdul Adhim dari Bangkalan (W. 1335 H/1916M), salah satu khalifah tarekat Naqsyabadiyah yang sangat dikenal baik di Madura, bahkan  di Makkah. Dari Syaikh Abdul Adhim penganut tarekat meluas di berbagai wilayah di Madura. Perlu diketahui bahwa Syaikh Abdul Adhim memperoleh sanad tarekat dari Syaikh Muhammad Shaleh al-Zawawi al-Makki.

Penjelasan ini bisa dipahami bahwa Kiai Zainal Tarate adalah penganut tarekat yang sangat istiqamah, sekaligus pengamal syariah yang sangat kuat. Tarekat dan syari’ah telah menjadi jalan hidupnya, bahkan beliau sangat menolak keras bila menemukan pelaku tarekat yang meninggalkan syariah dengan cara mengajak dengan lemah lembut agar sadar dan kembali kepada jalan yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Hal ini pernah dilakukan kepada salah satu Kiai yang mengamalkan ajaran “Solok”, yang salah satu ciri khas ajarannya adalah meninggalkan sholat. Untuk merespon ajaran ini, Kiai Zainal mengajak berdialog secara lembut di masjid pesantren dengan kiai tersebut hingga akhirnya kiai pengamal ajaran “solok” sadar kembali dan mengerjakan sholat sebagaimana biasa.
Cukup beralasan bila kemudian Kiai Zainal dalam salah satu kesempatan mengatakan sebagai berikut:

إن من لم يزرع المشاهدة فى العبادة لم يحصد المشاهدة وكذلك المعرفة

Sesungguhnya orang yang tidak menanam –proses menuju—musyahadah dalam ibadah, maka dipastikan ia tidak memanen musyadah. Begitu juga tidak sampai makrifat (Allah).

Ungkapan Kiai Zainal adalah penegasan bahwa capaian perasaan menyaksikan kehadiran Allah dalam batin pelaku tarekat atau tasawuf (musyahadah) atau mencapai derajat ma’rifatullah mustahil bagi mereka yang sengaja meninggalkan syari’atnya.   

Di samping aktivitas dakwah, Kiai Zainal dikenal sebagai pelaku bisnis, bahkan mendukung setiap kegiatan bisnis yang dilakukan istrinya bersama para santri dalam mengelola indutri lokal, misalnya pembuatan bedak putih, bedak lulur, dupa, termasuk jamu wanita dan pria hingga terkenal ke luar Sumenep. Produksi awal pesantren ini kelak dalam perkembangannya sampai sekarang cukup dikenal di masyarakat dengan sebutan bedak Tarate, dupa Tarate dan jamu Tarate.

Sementara itu, dalam konteks kebangsaan. Kiai Zainal memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kondisi bangsa. Baginya, keterpanggilan ikut melepaskan bencana yang dialami bangsa sejatinya ikut membantu masyarakat lepas dari kemiskinan dan ketidak berdayaan akibat tekanan penjajah.  Karenanya, beliau aktif dalam organisasi sosial dan politik di era penjajahan Belanda dan Jepang agar kontribusi yang dilakukan lebih besar, disamping melakukan proses mengajar kitab kuning kepada santri di pesantren yang diasuhnya.

Tahun 1917 hingga 1928, Kiai Zainal tercatat sebagai aktivis, bahkan pernah menjabat pimpinan  Serikat Dagang Islam (SDI) cabang Sumenep. Perlu diketahui SDI -dalam perkembangannya berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI)--  adalah merupakan organisasi perkumpulan para pedagang Islam yang pertama kali lahir di Indonesia atas inisiasi Haji Samanhudi dan dilanjutkan oleh HOS. Tjokroaminoto untuk merespon kebijakan politik Belanda yang memberikan kemudahan bagi asing untuk masuk ke Nusantara, yang dianggap mengancam sintem perekonomian lokal.

Untuk itu keterlibatan Kiai Zainal di SI adalah bentuk kesadaran beliau terhadap ancaman ekonomi umat, bila kebijakan politik ekonomi Belanda dibiarkan. Semangat nasionalisme Kiai Zainal muncul karena beliau melihat sendiri bahwa ekonomi umat perlu dikembangkan secara mandiri. Hadirnya kelas kapitalis global dalam kancah pasar lokal, melalui kebijakan Belanda, akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Bahkan bisa dipastikan pemain lokal –yang mayoritas Muslim-- akan tergerus dan rakyat akan menjadi konsumen, sementara pasar dikuasai oleh asing. Maka melalui SI, Kiai Zainal melawan Belanda sebagai penjajah, sekaligus simbol pendukung kapitalis asing.  

Bukan hanya itu, era perang revolusi 1945 yang melibatkan peran Santri di berbagai daerah memantik Kiai Zainal terlibat aktif sebagai pimpinan pasukan Sabilillah bersama Kiai Abi Suja’, yang masih keponakannya. Berbagai upaya dilakukan, termasuk di antaranya menjadi pelatih kanuragan bagi para anggota Sabilillah untuk menguatkan daya juang merebut kemerdekaan. Karenanya, kontribusi Kiai Zainal sebagai pejuang diabadikan namanya agar dikenal –sekaligus diteladani perannya-- oleh generasi terkini sebagai nama jalan. Nama Jalan ini ditetapkan oleh Pemda Tingkat II Sumenep dengan sebutan “jalan KH. Zainal Arifin”, berada di persimpangan jalan tengku umar dan jalan Diponegoro ke arah selatan kota Sumenep.
Perlu diketahui,  Kiai Zainal keluar dari keanggotaannya di Sarekat Islam (SI) setelah NU berdiri pada tahun 1930 Masehi di Sumenep. Alasannya cukup rasional, yang disampaikan oleh Kiai Zainal kepada salah satu muassis NU Sumenep Kiai Abi Suja’ ketika meminta restu proses pendirian NU di Sumenep setelah kedatangan Kiai Munif sebagai konsulat NU Jawa Timur. Kiai Zainal mengatakan kepada Kiai Abi Suja’ sebagai berikut:
“Kalau sekarang Nahdatul ulama berdiri, maka SI sudah tidak diperlukan lagi sebab SI perjuangannya hanyalah mas’alah ekonomi islami. Jadi dengan adanya Nahdlatul Ulama kini sudah waktunya Ulama tampil ke depan. Dari itu, kamu saja yang menjadi pelopornya sebab saya sudah tua.

Akhirnya. Itulah kisah singkat perjalanan hidup Kiai Zainal Arifin Tarate Pandian Sumenep. Yang perlu diingat, sepanjang hidupnya, beliau telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pengembangan ilmu, berdakwah, beribadah dan mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsa. Dengan cara ini nama beliau layak dikenang dan diteladani bagi generasi sekarang, sekalipun beliau telah lama meninggalkan kita semua pada hari Rabu setelah sholat Subuh. Bertepatan dengan tanggal 22 Muharram 1373 H atau tanggal 20 September 1953.

 

Informasi Kampus : 

STAI Miftahul Ulum Tarate Pandian Sumenep
Menuju Institut Terkemuka di Madura

Jalan Pesantren No 11
Tarate Pandian Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur - Indonesia
Telp : +62 878 - 7030 - 0328 / WA : +62 81 776 - 883 -730 / +62 823 - 3483 - 4806

Website : http://www.staimtarate.ac.id

E-mail 1 : official@staimtarate.ac.id 

E-mail 2 :  staimtarate.official@gmail.com

 

SOSIAL MEDIA

AGENDA KEGIATAN